Danau Merah Pagar Alam, Danau Unik di Kawasan Bukit Raje Mandare

Berbicara mengenai wisata mata air, Bengkulu memiliki banyak sekali wisata danau yang masih perawan. Danau merah Pagar Alam merupakan salah satunya. Namun, bukan hanya karena itu saja Danau Pagar Alam dikenal luas. Danau unik di kawasan Bukit Raje Mandareini menyimpan banyak sekali misteri. Selain air danaunya yang berwarna merah darah, hutan di sekitar danau juga meninggalkankesan janggal.

 

Danau Merah Pagar Alam terletak di kawasan perbukitan yang dikepung hutan di perbatasan Bengkulu-Sumatera Selatan. Namanya sendiri baru dikenal setelah ditemukan oleh penduduk lokal di tahun 2010. Dinamai demikian karena lokasinya yang dekat dengan perbatasan Kota Pagar Alam dan Kota Kaur.

 

Menurut kepercayaan, Danau Merah Pagar Alam memiliki aroma mistis. Fenomena danau berwarna merah darah, tentu membuat bulu kuduk setiap orang berdiri. Namun, saat airnya diciduk ternyata tidak ada perbedaan dengan air biasa bercampur tanah. Di beberapa titik sekitar danau juga kerap kali tercium aroma pandan meski tak diketemukan tumbuhan pandan.

 

Keunikan Danau Merah Pagar Alam tak berhenti sampai di situ saja. Kawasan hutan di sekitar Bukit Raje Mandare kabarnya menjadi rumah bagi beberapa satwa langka. Beberapa endemik yang ditemukan di tempat itu meliputi seekor lipan raksasa, burung berukuran besar, hingga kerbau yang menyunggi sarang lebah di telinganya.

 

Demikian kesan mistis yang melingkari danau unik di kawasan Bukit Raje Mandare tersebut timbul akibat masih kurangnya penelitian mendalam. Sampai detik ini pun Danau Merah Pagar Alam masih dalam tahap penelitian Arkeologi dan belum dikembangkan menjadi objek wisata alam yang ramah.

 

Bagi penyuka wisata alam yang penuh petualangan, berjalan-jalan ke Danau Merah Pagar Alam tampaknya bakal menyenangkan. Lokasinya yang berada di pedalaman tanpa akses jalan membuat perjalanan menjadi sangat ekstrim.Perjalanan menuju danaunya sendiri bisa memakan waktu 1-2 hari dengan berjalan kaki dari Desa Rimba Candi. Di sepanjang perjalanan nantinya para petualang bisa menemukan beberapa reruntuhan candi peninggalan Sriwijaya yang belum dikonservasi. Mengingat medannya yang berat, wisata alam ekstrim ini sebaiknya dilakukan bersama-sama orang yang telah terbiasa menerobos hutan dan memanjat tebing. (IA)