Kerukunan dalam Keberagaman Suku dan Agama Desa Suro Bali Bengkulu

Desa Suro Bali adalah desa adat yang terletak di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Sesuai namanya, desa ini memang diisi oleh suku Bali yang berimigrasi ke Bengkulu puluhan tahun silam. Keistimewaan Suro Bali makin terasa ketika mendapati tidak hanya suku Bali beragama Hindu saja yang menetap di sini, melainkan juga suku Jawa beragama Islam, suku Rejang dan suku Serawai asli Sumatera.Warga Desa Suro Bali memang terkenal suka membina kerukunan dalam keberagaman suku dan agama.

 

Menurut penuturan para tetua Desa Suro Bali, dahulu kala sebagian wilayah Desa Suro Muncar hanya dihuni 4 KK dari suku Bali. Arus transmigrasi penduduk Bali ke Bengkulu sekitar tahun 1960an berperan memunculkan cikal bakal berdirinya Desa Suro Bali tersebut. Lambat laun semakin banyak suku bangsa lain yang turut menetap.Berkat kepadatan penduduknya yang sudah memadai, wilayah pecahan desa Suro Muncar akhirnya ditetapkan sebagai desa berjulukan Suro Bali di tahun 1982. Kala itu, warga suku Bali memang mendominasi kawasan tersebut.

 

Sekarang, Desa Suro Bali memiliki keberagaman suku dan agama yang boleh dibilang lengkap. Di antara 108 KK atau 404 jiwa penduduk, berbaur masyarakat dari agama Hindu, Islam, Buddha, dan Katholik. Warga suku Bali yang beragama Hindu sendiri berjumlah 49 KK. Disusul warga beragama Islam sebanyak 48 KK. Sementara itu, warga beragama Buddha dan Katholik masih cukup minoritas dengan masing-masing berjumlah 9 KK dan 2 KK.Menariknya, setiap agama memiliki rumah ibadahnya masing-masing di dalam kawasan desa.

 

Desa unik di Bengkulu ini bukan sekedar bukti eksistensi agama Hindu di Bengkulu semata, tetapi juga praktek filosofi dan ajaran Hindu di Bumi Rafflesia. Warga Hindu di Desa Suro Bali memegang teguh ajaran Tat Twam Asi yang melarang menyakiti sesama manusia termasuk mereka yang berbeda suku dan agama. Demi menjaga keadilan antar suku dan agama, Desa Suro Bali juga membentuk Badan Musyawarah Adat Desa beranggotakan tokoh adat Bali, Jawa, Rejang dan Serawai. Penghormatan terhadap upacara keagamaan tiap etnis pun diperhatikan, khususnya hari-hari besar keagamaan. Melalui cara ini, kerukunan dalam keberagaman suku dan agama Desa Suro Balibisaterjaga hingga kini. (IA)