Tugu Hamilton Bengkulu, Bukti Jika Inggris Pernah Berkuasa di Bengkulu

Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengetahui bahwa negara ini pernah dijajah atau dikuasi oleh Belanda hingga ratusan tahun serta Jepang selama beberapa tahun. Padahal menurut fakta sejarah yang ada, ternyata bangsa Inggris juga pernah menjajah negeri ini. Hanya saja kawasan yang dikuasai tersebut hanya sebatas di Bengkulu saja.

Berdasarkan hal ini, maka tidak mengherankan jika di daerah tersebut banyak sekali destinasi wisata sejarah yang merupakan peninggalan dari tentara Inggris. Contoh paling terkenal yaitu Benteng Fort Marlborough. Sementara itu tak jauh dari benteng tersebut terdapat suatu obyek wisata sejarah lain, dinamakan Tugu Hamilton.

Kisah masa lalu

Dalam catatan sejarah yang ada, Inggris mulai menancapkan kuku kekuasaannya di Bengkulu dan sekitarnya sejak tahun 1685. Pada saat itu tentara negara penjajah tersebut sudah berhasil membuat benteng pertahanan di kawasan kota Bengkulu.

Di masa tersebut pula, seringkali terjadi pergolakan antara masyarakat Bengkulu dan pasukan Inggris. Bahkan tidak jarang pergolakan ini memicu terjadinya peperangan, yang kemudian akan memunculkan banyak korban jiwa dikedua belak pihak yang bersengketa.

Dalam perkembangan berikutnya, di tahun 1824 penjajah Inggris memutuskan menyerahkan daerah kekuasaanya di Bengkulu pada pihak Belanda. Kemudian sebagai gantinya, Belanda menyerahkan pulau Singapura dan Malaka (saat ini menjadi bagian negara Malaysia) kepada Inggris.

Sejak itu Bengkulu di kuasai oleh Belanda hingga Jepang masuk sekitar tahun 1943. Di masa tersebut, yang namanya pergolakan dan pertempuran yang masih sering terjadi. Hal ini akibat dan sikap tentara Belanda yang selalu bertindak sewenang-wenang pada warga Bengkulu.

Tugu kenangan

Tugu Hamilton berada tepat di tengah Jl. Soekarno-Hatta, berbentuk menara obelisk dengan limas segi empat dan alas atau pondasinya berbentuk kotak. Bangunan ini didirikan sebagai bentuk kenangan atas keberanian Kapten Robert Hamilton. Dia merupakan seorang pimpinan angkatan laut dari negara Inggris.

Ketika dikirim bertugas di Bengkulu, dia harus menghadapi suatu pertempuran dengan rakyat Bengkuku. Dalam pertempuran yang berlangsung pada 15 Desember 1793, dia terbunuh mati di usianya yang ke-38 tahun.

Kemudian sebagai perwujudan kenangan dan penghormatan bagi tentara tersebut, pemerintah Inggris yang ketika itu sedang berkuasa di Bengkulu mendirikan satu tugu perjuangan, yang sekarang ini terkenal dengan nama Tugu Hamilton.

Meski bukan merupakan sebuah monumen yang punya hubungan dengan perjuangan rakyat Bengkulu dan Indonesia, Tugu Hamilton tetap pantas disebut sebagai monumen sejarah serta obyek wisata sejarah. Karena setidaknya, keberadaan tugu tersebut dapat dijadikan bukti jika di masa lalu, negeri Indonesia pernah dijajah oleh Inggris.